Apa ini bisa disebut BACKPACKER?



Backpacker?? Siapa Takutt!!!


Kota Purwokerto adalah Kota pertama yang aku sambangi di Jawa Tengah dan ini untuk pertama kalinya aku mampu menginjakan kaki diluar daerah Jawa Barat dan DKI Jakarta. Bukan untuk tamasya ataupun piknik. Ya, Aku pergi kesana dengan alasan hendak menengok adik perempuanku yang sedang menjalani pendidikan tinggi di salah satu Universitas Negeri yang ada di sana, Universitas Jendral Soedirman. Jurusan Hubungan Internasional di FISIP menjadi  tujuan untuk meraih gelar sarjananya.

Jumat malam 26 September 2014 
Selepas magrib aku terburu-buru keluar kantor untuk mengejar jadwal keberangkatan ku dengan menggunakan moda transportasi Kereta Api. Kereta Bogowonto kelas ekonomi Gerbong 3 Seat 20C, itu yang tertera di tiket yang akhirnya aku cetak sendiri di layanan mesin cetak tiket mandiri di ruangan yang terletak paling ujung di Stasiun Pasar Senen. Akhirnya setelah menempuh perjalanan kantor-rumah-stasiun aku bisa duduk nyaman dan lepas landas sekitar pukul 22.00 WIB, telat 5 menit dari jadwal keberangkatan yang seharusnya pukul 21.55 WIB. Ini adalah perjalanan yang kedua kalinya menggunakan Kereta Api, setelah 2 bulan sebelumnya aku mudik ke kampung halaman juga dengan Kereta Api, --bisa dibilang pengalaman pertama yang Unpredictable karena pada waktu itu aku berhasil mendapatkan tiket mudik ke Cirebon di hari H keberangkatan, Luar Biasa bukan? Disaat orang-orang sudah booking tiket mudik 3 bulan sebelumnya. Dengan sedikit usaha dan memang rezeki dari Allah, aku bisa Booking 5 jam sebelum keberangkatan via Telepon, Thanks to My Handphone and Allah J --.
Back to the story, aku duduk persis di samping jendela, and I love it, kereta juga gak begitu penuh sama penumpang, buktinya kursi di depan cuma terisi satu padahal untuk dua orang, sedangkan aku duduk bersebelahan dengan lelaki yang nampaknya setengah baya. Selama perjalanan, entah karena hari yang semakin malam atau memang suhu pendingin udara yang diatur sedemikian rendah aku merasa semakin kedinginan, but don’t worry Sweeter putih kesayangan dengan inisial AUS pemberian kakak ipar menjadi life safer haha –lebay-.  

Selama perjalanan aku gak bisa memejamkan mata, entah karena terlalu excited atau takut kelewatan stasiunnya –maklum baru pertama kali- hehe. But Finally, setelah menempuh 5 jam perjalanan, akhirnya aku sampai di Stasiun Besar Purwokerto (Yeah!!). Kesan pertama saat menginjakkan kaki di stasiun itu, it was just Amazing, kondisi stasiun yang bersih dan nampak teratur membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama (haha). Adik perempuanku yang sejak tadi menelepon, sedang duduk manis di ruang tunggu penumpang, How lucky I am to have her- bela-belain jam 3 subuh jemput kakaknya dengan motor pinjeman dari teman satu kos (Claps!!). Bisa dibayangin jam 3 malem menyusuri jalanan protokol Purwokerto, it was WOW-sepiiiiii but it was nice- menghirup udara dingin kota ini.
·         27 September 2014 -Hari pertama di Purwokerto-
Jarum jam sudah menunjukan pukul 07.30 dan aku yang masih tertidur pulas di kamar kos adikku terusik oleh suaranya yang berusaha membangunkan sepulang dari kegiatan mabit nya semalam setelah menjemputku dari stasiun. Aku yang memang semalaman kurang tidur rasanya enggaan beranjak dari kasur empuk -__- hingga akhirnya suara keroncongan yang berasal dari perut memaksaku untuk bangun dan bergegas mandi untuk selanjutnya keluar kosan untuk mencari sarapan.
Yep, setelah sekitar 5 menit menyusuri jalanan, aku menjatuhkan pilihanku pada warung nasi yang kelihatannya bergaya ala mahasiswa. Aku memilih makan sayur bayam yang masih hangat, bakwan jagung dan telur balado, adikku yang menunya tidak jauh berbeda hanya memandangku penuh tawa saat aku menyantap makanan dengan cukup beringas (haha) –maklum saja perjalanan jauh Jakarta-purwokerto cukup membuat keroncongan di pagi hari apalagi sebelum berangkat semalam aku gak sempat makan ;-(
Selama menyantap sarapan, kami berbincang2 seputar kegiatan yang akan kami lakukan selama aku berada di sana, aku sungguh tidak ada ide, karena tidak tahu banyak tentang kota ini, tapi adikku tiba-tiba menawarkan untuk pergi ke Dieng. Aku yang memang pada saat itu sangat tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan gunung serta merta menjawab OK,, We’re going to go to Dieng. Dengan bermodalkan nasi bungkus dari warung nasi tempat kami sarapan ditambah cemilan-cemilun dan dua botol air mineral, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke dieng ala backapacker. Kami berangkat sekitar pukul 10 pagi. Dari Kos-kosan naik angkot berwarna merah -lupa nomor berapa – sampai ke terminal lama purwokerto dengan ongkos RP.4000,-. Di terminal kami memilih untuk naik Bis ¾ tujuan Purwokerto-Wonosobo yang nampak rombeng tapi masih banyak peminatnya, buktinya kursi terisi penuh malah ada yang berdiri, ongkos sampai ke wonosobo Rp. 25.000,-

Selfie di dalam Bis Rombeng PWT-Wonosobo
Sempet kaget, karena sopir bawa bisnya kenceng banget-duileh sampe sport jantung. Tapi melihat pemandangan kanan-kiri, daerah demi daerah yang dilewati, mulai dari Purbalingga hingga Banjarnegara aku cuma bisa bergumam “Nice-Nice ternyata seperti ini Jawa Tengah”. Aku kira waktu tempuh sampe ke dieng cuma 2-3 jam tapi ternyata apaaa hmmmm 5 jam coyy, udah gitu abis naek bis kita naik angkot lagi sekitar 10 menit sampe Pool MicroBis -semacam bis ¾ yang khusus membawa wisatawan ke Dieng- Ongkos naik microbis sampe ke spot pertama pendakian Prau harganya kurang lebih Rp.20.000,-. Well, finally we reach kompleks wisata Dieng sekitar pukul 15.00 WIB, sempet bingung karena dari satu objek ke objek lain cukup jauh jaraknya sedangkan hari semakin sore, dan alhasil kita nyewa ojek 1 motor untuk berdua, what a crazy!! hehe

           


Pemandangan Menuju Kompleks Wisata Dieng 1

Oyah, kita beruntung banget naik Microbis yang supirnya merangkap jd tour guide buat kita, karena kita duduk di bagian depan disamping pak supir, selama perjalanan bapak supir menjelaskan bagaimana kondisi dieng, kapan wisatawan banyak berkunjung sampai menjelaskan hasil pertanian disana, karena sepanjang perjalanan memang kita bakal menemukan hamparan ladang sayur-sayuran. Bahkan bapak supir sempat menawarkan tempat penginapan kalau-kalau kami ingin bermalam sambil menunggu sunrise di puncak sikunir-salah satu spot terbaik untuk menyaksikan sunrise di kompleks datyaran tinggi dieng-. Tapi sungguh kami berdua tidak berniat untuk bermalam disana karena tanpa persiapan dan kami wanita baik-baik tidak pantas rasanya bermalam disana tanpa izin terlebih dahulu dari kedua orangtua kami(ahay!!)
Well, let’s tell you where we go.


Kawah Sikidang



Ratapan Angin (Wind Mourn)






Kompleks Candi Arjuna



        


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Joke To You

Subtle Reminder : Muhammad SAW

Innisfree : You May Call it as "Review"? 😁