Apakah kau sudah cukup bersabar?

Setiap saat aku memandangnya dadaku terasa sesak. Bukan! Bukan karena aku benci tapi aku marah pada diriku sendiri mengapa aku tak jua bisa membahagiakannya. Padahal prestasiku dulu dibangku sekolah cukup mengagumkan. Semakin hari aku semakin disadarkan oleh kenyataan bahwa inilah hidup yang sebenarnya. Seberapa lama kau bisa bertahan di saat-saat terburuk sekalipun. Aku bukannya tak berusaha, sudah puluhan bahkan mungkin ratusan surat lamaran yang aku kirimkan setiap kali aku melihat kesempatan. Berkali-kali aku mengerjakan soal psikotes yang terkadang membuatku pening dan mual-mual. Aku datang untuk interview dimanapun lokasinya, tanpa diantar jemput seperti orang kebanyakan. Kemana-mana aku sendiri, aku bertanya mencari alamat lokasi. Aku lakukan yang terbaik yang aku bisa namun sayangnya Allah belum jua puas dengan usaha ku itu. Aku sering bergumam dalam hati bahwa aku lelah dengan hidup ini, padahal ini hanya ujian yang tak ada apa-apanya. Lalu aku bersimpuh di hadapan-Nya dan terisak, awalnya aku mengeluh tapi tidak lama aku memohon ampun bahwa aku sudah tidak sabar. Bahwa masih begitu banyak nikmat yang harus aku syukuri daripada hanya rezeki pekerjaan. Aku masih diberikan kesehatan, tidak ada satu cacat pun, keluargaku masih lengkap, kedua orang tuaku masih sehat dan berdiri tegak, saudara-saudaraku sukses, sungguh betapa rendah pemahamanku akan sabar dan syukur. Dan lagi aku masih diberikan kesempatan untuk berdoa kepada-Nya dan beribadah dengan tenang. Nikmat mana lagi yang kau dustakan.  Sungguh hina diri ini ya Allah, ampuni, ampuni diri ini Ya Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Joke To You

Subtle Reminder : Muhammad SAW

Innisfree : You May Call it as "Review"? 😁